Jumat, 22 September 2017
Pengertian Tajwid, Keutamaan Dan Hukum Mempelajarinya
Secara lughat (bahasa)
kata "Tajwid" berarti "Tahsin" (memperbaiki), sedangkan
menurut istilah adalah: "Mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya,
serta memberi hak-haknya, seperti: jelas kuat, lemah dan sifat-sifat huruf,
seperti: tebal, tipis, al-jahr, isti'la,
istifal dan lain-lain. Haq huruf yaitu sifat asli yang senantiasa ada pada
setiap huruf atau seperti sifat Al-jahr, Isti’la, dan lain sebagainya. Hak
huruf meliputi sifat-sifat huruf dan tempat-tempat keluar huruf.
Mustahaq huruf yaitu
sifat yang sewaktu-waktu timbul oleh sebab-sebab tertentu ,seperti; idh-har,
ikhfa, iqlab, idgham, qalqalah, ghunnah, tafkhim, tarqiq, mad, waqaf, dan
lain-lain.
Imam Ali bin Tholib
mengatakan bahwa Tajwid adalah mengeluarkan setiap huruf dari makhrajnya dan
memberikan hak setiap huruf (yaitu sifat yang melekat pada huruf tersebut
seperti qolqolah, Hams, dll) dan mustahaq huruf (yaitu sifat-sifat huruf yang
terjadi karena sebab-sebab tertentu, seperti izhar, idghom, dll.)
Pengertian lain dari
ilmu tajwid ialah menyampaikan dengan sebaik-baiknya dan sempurna dari
tiap-tiap bacaan ayat al-Quran.
Pengertian tahsin (تحسين)
secara bahasa sama seperti pengertian tajwid yang berasal dari kata حَسَّنَ- يُحَسِّنُ-
تَحْسِيْنًا yang berarti membaguskan atau memperbaiki.
Adapun masalah-masalah
yang dikemukakan dalam ilmu ini adalah makharijul huruf(tempat keluar-masuk
huruf), shifatul huruf (cara pengucapan huruf), ahkamul huruf(hubungan antar
huruf), ahkamul maddi wal qasr (panjang dan pendek ucapan), ahkamul waqaf wal
ibtida’ (memulai dan menghentikan bacaan) dan al-Khat al-Utsmani.
Maka dapat dikatakan
Ilmu Tajwid adalah pengetahuan tentang kaidah serta cara-cara membaca Al-Quran
dengan mengeluarkan huruf dari makhrojnya serta memberi hak dan mustahaknya
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
”Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al
Qur’an dan mengajarkannya”(HR.Muslim).
2. Tujuan dan Keutamaan mempelajari Ilmu Tajwid
Tujuan mempelajari ilmu Tajwid adalah agar dapat
membaca ayat-ayat Al-Qur'an secara betul (fasih) sesuai dengan yang diajarkan
Rasulullah saw. serta dapat memelihara lisannya dari kesalahan-kesalahan ketika
membaca al-Qur'an. Juga agar dapat memelihara bacaan Al-Quran dari kesalahan
dan perubahan serta memelihara lisan (mulut) dari kesalahan membaca.
Kesalahan dalam membaca Al-Quran dikategorikan dalam
dua macam, yaitu:
a. Al-Lakhnu al-Jaliy (Kesalahan besar / fatal)
Adalah kesalahan dalam membaca Al-Quran yang dapat
mengubah arti dan menyalahi urf qurro. Melakukan kesalahan ini hukumnya Haram.
Yang termasuk diantaranya ialah:
- Kesalahan makhraj huruf. biasanya terjadi pada
pengucapan huruf-huruf yang serupa seperti 'ain dan hamzah, cha, ha, kho dan
ghain, ta dan sebagainya.
- Salah membaca mad, seperti bacaan pendek dibaca
panjang atau sebaliknya.
- Salah membaca charokat. Seperti charokat di akhir
kata sebagai yang menunujukkan jabatan kata
b. Al-Lakhnu al-Khofiy (Kesalahan
kecil).
3. Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid
Tentang hukum mempelajari ilmu tajwid dapatlah kita
ketahui dan kita pahami sebagai berikut :
"Mempelajari ilmu tajwid (hukumna) fardhu
Kifayah dan mengamalkannya fardhu 'ain bagi setiap pembaca al-Qur'an (qari')
dari umat Islam. Sebagaimana firman Allah swt.:'Dan bacalah al-Qur'an secara
tartil' Dan sabda Nabi Muhammad saw.:'Bacalah al-Qur'an dengan lagu orang-orang
Arab dan janganlah kamu melagukan seperti orang-orang fasik dan orang orang
sombong, karena sesungguhnya akan datang beberapa kaum (golongan) sesudah aku
(nabi saw.) yang suka mengulang-ngulang bacaan al-qur'an (seperti
mengulang-ulang nyanyian dengan bunyi-bunyian musik) sambil meratap-ratap,
mereka membaca al-Qur'an tidak melalui tenggorokan dan tidak memikirkan
artinya, hati mereka berpaling dari tujuan membaca al-Qur'an dan hati orang
yang heran (mengagumi tingkah laku mereka)."
Juga sebagaimana yang dikatakan oleh asy-Syaik Ibnul
Jazariy di dalam syairnya:
"Adapun menggunakan tajwid adalah wajib
hukumnya bagi setiap pembaca al-Qur'an, maka barang siapa yang membaca
al-Qur'an tanpa tajwid adalah berdosa, karena bahwasanya Allah menurunkan
al-Qur'an dengan tajwid. Demikianlah yang sampai kepada kita adalah dari Allah
(dengan secara murawttir)."
Adapun keutamaan
mempelajari ilmu tajwid dapatlah dijelaskan sebagai berikut: "Sesungguhnya
(ilmu Tajwid) adalah ilmu yang paling utama dan paling mulia, berkaitan dengan
kitab yang paling mulia dan paling agung (Al-Qur'an)."
4. Dalil dan Dasar Penyusunan Ilmu Tajwid
1. Al-Qur'an, surah Al-Muzammil ayat 4:
وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ
تَرۡتِيلاً
Artinya: Dan bacalah Al Qur’an itu dengan
perlahan-lahan.
2. Sabda Rasulullah saw.
جَوِّدُ الْقُرْآنَ فَإِنَّ التَّجْوِيْدَ حِلْيَةُ الْقِرَاءَةِ
"Baguskanlah bacaan al-Qur'an, maka
sesungguhnya membaguskan bacaan al-Qur'an itu hiasan qira'at (bacaan)."
[HR. Turmudzi].
3. Dalam Sunan An-Nasa’i dan Ad-Darimi serta
Al-Mustadrak Al-Hakim dari Barra’r.a. berkata: “Saya mendengar Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
حَسِّنُوْا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ فَإِنَّ الصَّوْتَ
الْحَسَنَ يَزِيْدُ الْقُرْآنَ حُسْنًا
“Baguskanlah Al-Qur’an
dengan suaramu, karena suara yang bagus menambah keindahan Al-Qur’an.”
5. Kaidah-Kaidah Ilmu Tajwid
Hukum-hukum dalam tajwid beserta komponen ilmu
tajwid yang harus dikenal dipelajari, dipahami serta diamalkan dalam membaca
Al-Quran, antara lain :
1. Hukum Ta’awuz dan Basmalah
Isti’azah atau taawuz adalah melafazkan atau
membunyikannya : “A’uzubillahi minasy syaitaanir rajiim” (ﺍﻋﻮﺬ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﻥ ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ)
cara melafazkan basmalah adalah bunyinya:
“Bismillahir rahmaanir rahiim” (ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺤﻤﻦ ﺍﻟﺮﺤﻴﻢ).
Terdapat 4 cara membaca iati’azah, basmalah dan
surat :
a. memutuskan isti’azah (berhenti) kemudian baru
membaca basmalah,
b. menyambungkan basmalah dengan surah tanpa
berhenti,
c. membaca isti’azah dan basmalah terus-menerus
tanpa henti,
d. membaca isti’azah, basmalah dan awal surat
terus-menerus tanpa berhenti.
Terdapat 4 cara membaca basmalah di antara dua
surat. Membaca basmalah adalah tanda awal dimulai suatu bacaan dalam surat
Al-Quran. Guna dari membaca basmalah suatu keharusan dengan tujuan :
a. Basmalah sebagai pemisah dengan surat Al-Quran
yang lain
b. Sebagai penghubung dengan awal surat Al-Quran
c. Sebagai penghubung dari kesemua surat Al-Quran
d. Menghubungkan akhir surat dengan basamalah, lalu
berhenti.
Namun basamalah tidak selalu menjadi surat awal yang harus terus
dibaca untuk melanjutkan surat berikutnya. Walau bagaimana pun, tidak harus
membaca demikian karena dikhawatirkan ada yang mengganggap basmalah merupakan
salah satu ayat daripada surat yang sebelumnya.
Dalam ilmu tajwid juga
dikenal ada 9 hukum bacaan yang isinya menjelaskan bagian-bagian tanda baca dan
cara melafazkannya atau pengucapannya, antara lain :
A. Hukum nun mati dan tanwin, terdiri dari :
1. Izhar Halqi
2. Idgham
3. Idgham Bilaghunnah
4. Iqlab
5. Ikhfa’ haqiqi
B. Hukum mim mati
Selain hukum nun mati dan tanwin adapula hukum lainnya
dalam mempelajari dan membaca Al-Quran yakni Hukum mim mati, yang disebut hukum
mim mati jika bertemu dengan huruf mim mati (مْ) yang bertemu dengan
huruf-huruf arab tertentu.
Hukum mim mati memiliki 3 jenis, yang diantaranya
adalah :
1. Ikhfa Syafawi (ﺇﺧﻔﺎﺀ ﺷﻔﻮﻱ)
Apabila mim mati (مْ) bertemu dengan ba (ب), maka
cara membacanya harus dibunyikan samar-samar di bibir dan dibaca didengungkan.
Contoh: (فَاحْكُم بَيْنَهُم) (تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ)
(وَكَلْبُهُم بَاسِطٌ)
2. Idgham Mimi ( إدغام ميمى)
Apabila mim mati (مْ) bertemu dengan mim (م), maka
cara membacanya adalah seperti menyuarakan mim rangkap atau ditasyidkan dan
wajib dibaca dengung. Idgham mimi disebut juga idgham mislain atau
mutamasilain.
Contoh : (أَم مَنْ) (كَمْ مِن فِئَةٍ)
3. Izhar Syafawi (ﺇﻇﻬﺎﺭ ﺷﻔﻮﻱ)
Apabila mim mati (مْ) bertemu dengan salah satu
huruf hijaiyyah selain huruf mim (مْ) dan ba (ب), maka cara membacanya dengan
jelas di bibir dan mulut tertutup.
Contoh: (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ) (تَمْسُونَ)
C. Hukum mim dan nun tasydid
Hukum mim dan nun tasydid juga disebut sebagai wajib
al-ghunnah (ﻭﺍﺟﺐ ﺍﻟﻐﻨﻪ) yang bermakna bahwa pembaca wajib untuk mendengungkan
bacaan. Maka jelaslah yang bacaan bagi kedua-duanya adalah didengungkan. Hukum
ini berlaku bagi setiap huruf mim dan nun yang memiliki tanda syadda atau
bertasydid (ﻡّ dan نّ).
Contoh: ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠِﻨﱠﺔ ﻭَﺍﻟﻨﱠﺎﺱِ
D. Hukum alif lam ma’rifah
Alif lam ma’rifah adalah dua huruf yang ditambah
pada pangkal atau awal dari kata yang bermakna nama atau isim. Terdapat dua
jenis alif lam ma’rifah yaitu qamariah dan syamsiah.
- Alif lam qamariah ialah lam yang diikuti oleh 14
huruf hijaiah, seperti: alif/hamzah(ء), ba’ (ب), jim (ج), ha’ (ح), kha’ (خ),
‘ain (ع), ghain (غ), fa’ (ف), qaf (ق), kaf (ك), mim (م), wau (و), ha’ (ﮬ) dan
ya’ (ي). Hukum alif lam qamariah diambil dari bahasa arab yaitu al-qamar (ﺍﻟﻘﻤﺮ)
yang artinya adalah bulan. Maka dari itu, cara membaca alif lam ini adalah
dibacakan secara jelas tanpa meleburkan bacaannya.
- Alif lam syamsiah ialah lam yang diikuti oleh 14
huruf hijaiah seperti: ta’ (ت), tha’ (ث), dal (د), dzal (ذ), ra’ (ر), zai (ز),
sin (س), syin (ش), sod (ص), dhod (ض), tho (ط), zho (ظ), lam (ل) dan nun (ن).
Nama asy-syamsiah diambil dari bahasa Arab (ﺍﻟﺸﻤﺴﻴﻪ) yang artinya adalah
matahari. Maka dari itu, cara membaca alif lam ini tidak dibacakan melainkan
dileburkan kepada huruf setelahnya.
E. Hukum idgham
Idgham (ﺇﺩﻏﺎﻡ) adalah berpadu atau bercampur antara
dua huruf atau memasukkan satu huruf ke dalam huruf yang lain. Maka dari itu,
bacaan idgham harus dilafazkan dengan cara meleburkan suatu huruf kepada huruf
setelahnya. Terdapat tiga jenis idgham:
- Idgham mutamathilain (ﺇﺩﻏﺎﻡ ﻣﺘﻤﺎﺛﻠﻴﻦ – yang
serupa) ialah pertemuan antara dua huruf yang sama sifat dan makhrajnya (tempat
keluarnya) dal bertemu dal dan sebagainya. Hukum adalah wajib diidghamkan.
Contoh: ﻗَﺪ ﺩَﺨَﻠُﻮاْ.
- Idgham mutaqaribain (ﺇﺩﻏﺎﻡ ﻣﺘﻘﺎﺭﺑﻴﻦ – yang hampir)
ialah pertemuan dua huruf yang sifat dan makhrajnya hampir sama, seperti ba’
bertemu mim, qaf bertemu kaf dan tha’ bertemu dzal. Contoh: ﻧَﺨْﻠُﻘڪُﻢْ
- Idgham mutajanisain (ﺇﺩﻏﺎﻡ ﻣﺘﺠﺎﻧﺴﻴﻦ – yang
sejenis) ialah pertemuan antara dua huruf yang sama makhrajnya tetapi tidak
sama sifatnya seperti ta’ dan tha, lam dan ra’ serta dzal dan zha. Contoh: ﻗُﻞ ﺭَﺏﱢ
F. Hukum mad
Mad yang artinya yaitu melanjutkan atau melebihkan.
Dari segi istilah Ulama tajwid dan ahli bacaan, mad bermakna memanjangkan suara
dengan lanjutan menurut kedudukan salah satu dari huruf mad. Terdapat dua
bagian mad, yaitu mad asli dan mad far’i.
Terdapat tiga huruf mad yaitu alif,
wau, dan ya’ dan huruf tersebut haruslah berbaris mati atau saktah. Panjang
pendeknya bacaan mad diukur dengan menggunakan harakat.
G. Hukum ra’
Hukum ra’ adalah hukum bagaimana membunyikan huruf
ra’ dalam bacaan. Terdapat tiga cara yaitu kasar atau tebal, halus atau tipis,
atau harus dikasarkan dan ditipiskan.
* Bacaan ra’ harus dikasarkan apabila:
1. Setiap ra’ yang berharakat atas atau fathah.
Contoh: ﺭَﺑﱢﻨَﺎ
2. Setiap ra’ yang berbaris mati atau berharakat
sukun dan huruf sebelumnya berbaris atas atau fathah.
Contoh: ﻭَﺍﻻَﺭْﺽ
3. Ra’ berbaris mati yang huruf sebelumnya berbaris
bawah atau kasrah.
Contoh: ٱﺭْﺟِﻌُﻮْﺍ
4. Ra’ berbaris mati dan sebelumnya huruf yang
berbaris bawah atau kasrah tetapi ra’ tadi berjumpa dengan huruf isti’la’.
Contoh: ﻣِﺮْﺻَﺎﺪ
* Bacaan ra’ yang ditipiskan adalah apabila:
1. Setiap ra’ yang berbaris bawah atau kasrah.
Contoh: ﺭِﺟَﺎﻝٌ
2. Setiap ra’ yang sebelumnya terdapat mad lain
Contoh: ﺧَﻴْﺮٌ
3. Ra’ mati yang sebelumnya juga huruf berbaris
bawah atau kasrah tetapi tidak berjumpa dengan huruf isti’la’.
Contoh: ﻓِﺮْﻋَﻮﻦَ
* Bacaan ra’ yang harus dikasarkan dan ditipiskan
adalah apabila setiap ra’ yang berbaris mati yang huruf sebelumnya berbaris
bawah dan kemudian berjumpa dengan salah satu huruf isti’la’.
Contoh: ﻓِﺮْﻕ
Isti’la’ (ﺍﺳﺘﻌﻼ ﺀ): terdapat tujuh huruf yaitu kha’
(خ), sod (ص), dhad (ض), tha (ط), qaf (ق), dan zha (ظ).
H. Qalqalah
Qalqalah (ﻗﻠﻘﻠﻪ) adalah bacaan pada huruf-huruf
qalqalah dengan bunyi seakan-akan berdetik atau memantul. Huruf qalqalah ada
lima yaitu qaf (ق), tha (ط), ba’ (ب), jim (ج), dan dal (د). Qalqalah terbagi
menjadi dua jenis:
- Qalqalah kecil yaitu apabila salah satu daripada
huruf qalqalah itu berbaris mati dan baris matinya adalah asli karena harakat
sukun dan bukan karena waqaf.
Contoh: ﻴَﻄْﻤَﻌُﻮﻥَ, ﻴَﺪْﻋُﻮﻥَ
- Qalqalah besar yaitu apabila salah satu daripada
huruf qalqalah itu dimatikan karena waqaf atau berhenti. Dalam keadaan ini,
qalqalah dilakukan apabila bacaan diwaqafkan tetapi tidak diqalqalahkan apabila
bacaan diteruskan.
Contoh: ٱﻟْﻔَﻟَﻖِ, ﻋَﻟَﻖٍ
"Hukum Nun Mati ( نْ ) Dan Tanwin"
Dalam pembacaan Al-Quran kita akan mendapatkan "Nun
Mati" atau "Tanwin" yang ada dalam setiap ayat. Nun Mati
dan Tanwin bertemu dengan huruf-huruf tertentu dibaca menurut tajwid yang
terdapat dalam Al-Quran.
Adapun aturan atau hukum pembacaan ini dituangkan
dalam "Hukum
Nun Mati dan Tanwin".
A. Definisi Nun Mati dan Tanwin.
Nun mati adalah huruf nun ( نْ) yang bertanda sukun.
Tanwin adalah tanda dhommatain, fathahtain atau kasrotain
Adapun perbedaan pokok "Nun Mati" dan "Tanwin" ialah
Nun bersukun tetap nyata dalam penulisan dan pengucapannya, baik ketika washal
(bersambung) atau ketika waqaf (berhenti) sedang Tanwin tetap nyata terdengar
dalam pengucapan dan ketika washal, tetapi tidak dalam penulisan dan
waqaf.
B. Pembahasan Hukum-Hukum Nun mati dan Tanwin.
Tata cara membaca 'Nun Mati danTanwin' pada saat bertemu
dengan salah satu huruf Hiyaiyah . Hukum ini terdiri dari 4 jenis, yaitu;
1. Idzhar Halqi
3. Iqlab
4. Ikhfa' Haqiqi
Penjelasan:
1. Idzhar Halqi
Menurut bahasa, Idzhar artinya jelas dan terang.
Menurut istilah yaitu mengeluarkan huruf dari makhrajnya
tanpa memakai dengung pada huruf yang di-idzharkan.
Hukum Idzhar : Apabila Nun Sukun atau Tanwin menghadapi
salah satu dari Huruf Halqi yang enam, maka dinamakan Idzhar.
Contoh Idzhar Halqi :
Idzhar Halqi merupakan
sifat dari huruf "Nun Sukun" yaitu jelasnya suara “nun"
(نْ ) (bukan bunyi suara yang lain), ketika huruf "Nun
sukun" bertemu dengan 6 huruf : ha ( ھ), hamzah
( أ), ghoin (غ), 'ain (ع), kha (خ), dan ha (ح) yang makhrojnya di
tenggorokan. Karena itu Idzhar disebut Idzhar Halqi (jelas di
tenggorokan ).
Durasi pembacaan idzhar halqi adalah satu
ketukan saja.
Berikut ini adalah contoh bacaan
Idzhar Halqi :
Dua contoh kasus di atas menampilkan kasus "Nun
Mati" bertemu huruf ghoin (غ) dan simbol "Tanwin":
bertemu huruf ha (ح) .
Cara
membaca Idzhar Halqi adalah sebagai berikut:
= > Penggalan ayat tersebut di atas terdiri atas 8 huruf.
Oleh karena itu, ia harus dibaca dengan delapan
ketukan yang rata dan konstan. Ingat … bahwa tiap huruf mempunyai hak
ketukan yang sama, dan prinsip ketukan adalah rata dan konstan.
Bacaan Idzhar Halqi terjadi
pada ketukan ke-4, dimana ‘Nun Mati’ bertemu huruf ‘ghoin (غ)’. Huruf Nun Mati pada ketukan ke-4 dibaca dengan bunyi
‘n’ yang jelas. Ia mempunyai hak 1 ketukan saja.
Huruf ‘Nun Mati‘ pembacaan bunyi konsonannya akan
maju ke ketukan sebelumnya, namun hak ketukan tetap diberikan kepadanya. Hal
itu terjadi agar tidak ada pemanjangan suara sebelum huruf mati. Karena bila
ada mad (suara dipanjangkan) menuju huruf mati, pembacaan seperti itu adalah
Salah.
Panduan praktek membaca
Idzhar Halqi adalah sebagai berikut :
Pada ketukan ke-3, kita
akan mengucapkan “yun”. Tahan lidah pada
posisi huruf “n” hingga ketukan ke-4
selesai. Lepaskan lidah dari posisi huruf
“n” sebelum jatuh pada ketukan
ke-5, saat kita harus mengucapkan “ghi”. Bunyi “n” pada ketukan ke-3 atau ke-4
tidak boleh dipantulkan.
Jadi, apabila contoh
tersebut di atas dibaca keseluruhannya, akan berbunyi “fa-sa-yun- -ghi-dlu-
-na”. Spasi kosong di ketukan ke-4 adalah untuk hak ketukan Idzar Halqi,
dan spasi kosong pada ketukan ke-7 adalah untuk hak ketukan Mad Thobi’i.
Contoh Lainnya :
Pada ketukan ke-3, kita akan mengucapkan “dlon”. Tahan
lidah pada posisi huruf “n” hingga ketukan ke-4 selesai. Lepaskan
lidah dari posisi huruf “n” sebelum jatuh pada ketukan ke-5, saat
kita harus mengucapkan “ha”. Bunyi “n” pada ketukan ke-3 atau ke-4 tidak boleh
dipantulkan.
Jadi, apabila contoh tersebut di atas dibaca
keseluruhannya, akan berbunyi “qor-
-dlon- -ha sa-na- -”.
Spasi kosong di ketukan ke-2 adalah untuk hak ketukan 'ro sukun' yang konsonannya
bergeser kepada qor, spasi kosong pada ketukan ke-4 adalah untuk hak ketukan Idzhar
Halqi dan spasi kosong pada ketukan ke-8 adalah untuk hak ketukan Mad ‘Iwadl.
Tips Cara Bersiwak Rosulullah SAW
Apa itu siwak?
Siwak (atau disebut juga miswak)
merupakan kayu dari ranting pohon Aarak atau Peelu, yang lazim terdapat di
jazirah Arab. Nama
latinnya: Salvadora Persica.
Siwak inilah yang biasa digunakan sebagai sikat gigi
sekaligus pasta gigi yang terkenal di jazirah Arab.Keutamaan bersiwak sangat
banyak.
Bahkan penelitian-penelitian
modern menemukan bahwa siwak lebih baik dan alami ketimbang sikat dan pasta
gigi yang sekarang beredar luas. Rasulullah SAW pun
sangat menyukai bersiwak
(menyikat gigi dengan siwak).
Cara Rasulullah SAW bersiwak adalah sebagai berikut:
1. Berdoa sebelum bersiwak. Salah satu do’a yang
dicontohkan Rasulullah SAW adalah: “Allahumma thahhir bissiwaak Asnaaniy, wa
qawwiy bihi Litsaatsiy, wa afshih bihi lisaniy“, yang artinya “Wahai Allah sucikanlah gigi dan
mulutku dg siwak, dan kuatkanlah Gusi gusiku, dan fashih kan lah lidahku”
2. Memegang siwak dengan tangan kanan atau tangan
kiri (ada perbedaan pendapat tentang hal ini) dan meletakkan jari
kelingking dan ibu jari dibawah siwak, sedangkan jari manis, jari tengah, dan
jari telunjuk diletakkan
di atas siwak
3. Bersiwak dimulai dari jajaran gigi atas-tengah,
lalu atas-kanan, lalu bawah-kanan, lalu bawah-tengah, lalu atas-tengah, lalu
atas-kiri, lalu bawah-kiri. Jadi seperti angka 8 yang ditulis rebah
4. Langkah ke-3 di atas dilakukan 3x putaran
5. Selesai bersiwak, mengucapkan hamdalah,
“Alhamdulillah“.
Kapan saja bersiwak? Rasulullah mencontohkan
waktu-waktu utama bersiwak adalah sebagai berikut;
1. Hendak berwudhu dan sholat
2. Ketika akan memasuki rumah
3. Ketika bangun tidur. Baca :
Cara Tidur Rasulullah SAW
4. Ketika sedang berpuasa (shaum)
5. Ketika hendak membaca Al-Qur’an.
Beberapa hal lain yang pernah Rasulullah SAW
contohkan tentang bersiwak:
1. Cucilah siwak sebelum menggunakan dengan air
bersih
2. Sebelum digunakan, sebaiknya siwak diperbaiki/diperbagus
terlebih dahulu
3. Boleh menggunakan siwak orang lain setelah
dibersihkan
4. Bersungguh-sungguhlah ketika bersiwak
5. Boleh bersiwak di hadapan orang lain (tidak harus
sembunyi-sembunyi).
Wallahu’alam bissahawab.
Referensi:
1.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda, “Siwak merupakan
kebersihan bagi mulut sekaligus keridhaan bagi Rabb.” (Riwayat Ahmad)
2.
Sabda Nabi, “Kalau bukan karena akan memberatkan umatku, tentulah kuperintahkan
mereka
untuk bersiwak setiap akan wudhu. (Riwayat Bukhari dan Muslim). Dalam redaksi
lain, Nabi mengucapkan, “Kalau bukan karena akan memberatkan umatku tentulah
kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan shalat.” (Riwayat al-Bukhari
dan Muslim).
3.
Diriwayatkan dari Syuraih bin Hani, ia berkata: “Aku bertanya kepada Aisyah,
‘Apa yang dilakukan pertama kali oleh Rasulullah jika memasuki rumahnya?”
Aisyah menjawab, “Bersiwak”. (Riwayat Muslim).
4.
Nabi Muhammad SAW mencontohkan bersiwak setiap kali bangun tidur, termasuk saat
bangun malam. (Riwayat Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah).
5.
Aisyah menyebutkan, “Rasulullah tak tidur pada malam atau siang hari lalu
beliau bangun kecuali bersiwak terlebih dahulu sebelum wudhu.” (Riwayat Abu
Daud).
6.
Dari Amir bin Rubaiah, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah bersiwak (berulang
kali hingga aku tidak bisa menghitungnya), padahal beliau sedang berpuasa.”
(Riwayat Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).
7.
Dari Ali ibn Thalib Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah memerintahkan
kami bersiwak: ‘Sesungguhnya seorang hamba jika berdiri menunaikan shalat,
malaikat lalu mendatanginya, berdiri di belakangnya mendengar bacaan al-Qur`an
dan mendekat. Malaikat terus mendengar dan mendekat sampai ia meletakkan
mulutnya di atas mulut hamba tersebut, hingga tidaklah dia membaca satu ayat
pun kecuali malaikat berada di rongganya.” (Riwayat Baihaqi)
8.
Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan,”Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah bersiwak lalu memberiku siwak tersebut utk kucuci. Lalu aku menggunakan
utk bersiwak kemudian mencuci setelah menyerahkan kepada beliau.”
9.
Musa Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu menceritakan:“Aku pernah mendatangi Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu beliau sedang bersiwak dgn siwak basah.
Ujung siwak itu di atas lidah beliau dan sedangkan
siwak di dlm mulut beliau seakan-akan beliau hendak muntah.”
Sunnah Senyum Itu Ibadah
Rasulullah SAW Selalu Tersenyum
Rasulullah SAW sangat terkenal dengan senyumannya.
Banyak kesaksian dan kisah Rasulullah SAW yang
diceritakan oleh para sahabat, diantaranya adalah:
1. Rasulullah SAW menyatakan bahwa senyum adalah
ibadah
2. Rasulullah SAW selalu tersenyum pada istrinya
3. Senyuman merupakan wujud tertawa Rasulullah SAW.
Beliau tidak pernah tertawa terbahak-bahak
4. Rasulullah SAW menggunakan senyuman ketika
menegur seseorang
5. Rasulullah SAW tetap tersenyum ketika menerima
ancaman. Baca kisah “Ancaman Raja Persia“
6. Rasulullah SAW tersenyum ketika membebaskan
tawanan orang kafir
7. Walaupun Rasulullah SAW sering tersenyum ketika
disakiti, namun jika hukum Allah dilanggar, wajahnya akan memerah karena
marah
Referensi:
1. Rasulullah SAW
bersabda, ”Tersenyum ketika bertemu dengan saudara kalian adalah termasuk ibadah”.
(Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi)
2. Abdullah bin
Al-Harist Radliyallahu’anhu menuturkan, yang artinya,”Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih
banyak tersenyum daripada Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam “. (Riwayat At-Tirmidzi)
3. Al-Husein
Radliyallahu’anhu, cucu beliau, menuturkan keluhuran budi pekerti beliau. Ia berkata,” Aku bertanya kepada Ayahku
tentang adab dan etika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam terhadap
orang-orang yang
bergaul dengan beliau. Ayahku menuturkan, ‘Beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam
senantiasa tersenyum,budi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang yang
kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka
mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja mengharapkan pasti tidak akan
kecewa dan
siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas…..” (Riwayat At Tirmidzi)
4. Dalam sebuah riwayat
disebutkan pula, ”Belum pernah aku menemukan orang yang paling banyak tersenyum seperti
halnya Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam “. (Riwayat At-Tirmidzi)
5. Aisyah
Radliyallahu’anha mengungkapkan, yang artinya, ”Adalah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam ketika bersama
istri-istrinya merupakan seorang suami yang paling luwes dan semulia-mulia
manusia yang dipenuhi
dengan gelak tawa dan senyum simpul”. (Riwayat Ibnu Asakir)
6. Aisyah
Radliyallahu’anha bercerita, yang artinya, “Tidak pernah saya melihat Raulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam tertawa terbahak-bahak
sehingga kelihatan batas kerongkongannya.
Akan tetapi tertawa beliau adalah
dengan tersenyum”. (Riwayat Al-Bukhari)
















