Secara lughat (bahasa)
kata "Tajwid" berarti "Tahsin" (memperbaiki), sedangkan
menurut istilah adalah: "Mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya,
serta memberi hak-haknya, seperti: jelas kuat, lemah dan sifat-sifat huruf,
seperti: tebal, tipis, al-jahr, isti'la,
istifal dan lain-lain. Haq huruf yaitu sifat asli yang senantiasa ada pada
setiap huruf atau seperti sifat Al-jahr, Isti’la, dan lain sebagainya. Hak
huruf meliputi sifat-sifat huruf dan tempat-tempat keluar huruf.
Mustahaq huruf yaitu
sifat yang sewaktu-waktu timbul oleh sebab-sebab tertentu ,seperti; idh-har,
ikhfa, iqlab, idgham, qalqalah, ghunnah, tafkhim, tarqiq, mad, waqaf, dan
lain-lain.
Imam Ali bin Tholib
mengatakan bahwa Tajwid adalah mengeluarkan setiap huruf dari makhrajnya dan
memberikan hak setiap huruf (yaitu sifat yang melekat pada huruf tersebut
seperti qolqolah, Hams, dll) dan mustahaq huruf (yaitu sifat-sifat huruf yang
terjadi karena sebab-sebab tertentu, seperti izhar, idghom, dll.)
Pengertian lain dari
ilmu tajwid ialah menyampaikan dengan sebaik-baiknya dan sempurna dari
tiap-tiap bacaan ayat al-Quran.
Pengertian tahsin (تحسين)
secara bahasa sama seperti pengertian tajwid yang berasal dari kata حَسَّنَ- يُحَسِّنُ-
تَحْسِيْنًا yang berarti membaguskan atau memperbaiki.
Adapun masalah-masalah
yang dikemukakan dalam ilmu ini adalah makharijul huruf(tempat keluar-masuk
huruf), shifatul huruf (cara pengucapan huruf), ahkamul huruf(hubungan antar
huruf), ahkamul maddi wal qasr (panjang dan pendek ucapan), ahkamul waqaf wal
ibtida’ (memulai dan menghentikan bacaan) dan al-Khat al-Utsmani.
Maka dapat dikatakan
Ilmu Tajwid adalah pengetahuan tentang kaidah serta cara-cara membaca Al-Quran
dengan mengeluarkan huruf dari makhrojnya serta memberi hak dan mustahaknya
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
”Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al
Qur’an dan mengajarkannya”(HR.Muslim).
2. Tujuan dan Keutamaan mempelajari Ilmu Tajwid
Tujuan mempelajari ilmu Tajwid adalah agar dapat
membaca ayat-ayat Al-Qur'an secara betul (fasih) sesuai dengan yang diajarkan
Rasulullah saw. serta dapat memelihara lisannya dari kesalahan-kesalahan ketika
membaca al-Qur'an. Juga agar dapat memelihara bacaan Al-Quran dari kesalahan
dan perubahan serta memelihara lisan (mulut) dari kesalahan membaca.
Kesalahan dalam membaca Al-Quran dikategorikan dalam
dua macam, yaitu:
a. Al-Lakhnu al-Jaliy (Kesalahan besar / fatal)
Adalah kesalahan dalam membaca Al-Quran yang dapat
mengubah arti dan menyalahi urf qurro. Melakukan kesalahan ini hukumnya Haram.
Yang termasuk diantaranya ialah:
- Kesalahan makhraj huruf. biasanya terjadi pada
pengucapan huruf-huruf yang serupa seperti 'ain dan hamzah, cha, ha, kho dan
ghain, ta dan sebagainya.
- Salah membaca mad, seperti bacaan pendek dibaca
panjang atau sebaliknya.
- Salah membaca charokat. Seperti charokat di akhir
kata sebagai yang menunujukkan jabatan kata
b. Al-Lakhnu al-Khofiy (Kesalahan
kecil).
3. Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid
Tentang hukum mempelajari ilmu tajwid dapatlah kita
ketahui dan kita pahami sebagai berikut :
"Mempelajari ilmu tajwid (hukumna) fardhu
Kifayah dan mengamalkannya fardhu 'ain bagi setiap pembaca al-Qur'an (qari')
dari umat Islam. Sebagaimana firman Allah swt.:'Dan bacalah al-Qur'an secara
tartil' Dan sabda Nabi Muhammad saw.:'Bacalah al-Qur'an dengan lagu orang-orang
Arab dan janganlah kamu melagukan seperti orang-orang fasik dan orang orang
sombong, karena sesungguhnya akan datang beberapa kaum (golongan) sesudah aku
(nabi saw.) yang suka mengulang-ngulang bacaan al-qur'an (seperti
mengulang-ulang nyanyian dengan bunyi-bunyian musik) sambil meratap-ratap,
mereka membaca al-Qur'an tidak melalui tenggorokan dan tidak memikirkan
artinya, hati mereka berpaling dari tujuan membaca al-Qur'an dan hati orang
yang heran (mengagumi tingkah laku mereka)."
Juga sebagaimana yang dikatakan oleh asy-Syaik Ibnul
Jazariy di dalam syairnya:
"Adapun menggunakan tajwid adalah wajib
hukumnya bagi setiap pembaca al-Qur'an, maka barang siapa yang membaca
al-Qur'an tanpa tajwid adalah berdosa, karena bahwasanya Allah menurunkan
al-Qur'an dengan tajwid. Demikianlah yang sampai kepada kita adalah dari Allah
(dengan secara murawttir)."
Adapun keutamaan
mempelajari ilmu tajwid dapatlah dijelaskan sebagai berikut: "Sesungguhnya
(ilmu Tajwid) adalah ilmu yang paling utama dan paling mulia, berkaitan dengan
kitab yang paling mulia dan paling agung (Al-Qur'an)."
4. Dalil dan Dasar Penyusunan Ilmu Tajwid
1. Al-Qur'an, surah Al-Muzammil ayat 4:
وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ
تَرۡتِيلاً
Artinya: Dan bacalah Al Qur’an itu dengan
perlahan-lahan.
2. Sabda Rasulullah saw.
جَوِّدُ الْقُرْآنَ فَإِنَّ التَّجْوِيْدَ حِلْيَةُ الْقِرَاءَةِ
"Baguskanlah bacaan al-Qur'an, maka
sesungguhnya membaguskan bacaan al-Qur'an itu hiasan qira'at (bacaan)."
[HR. Turmudzi].
3. Dalam Sunan An-Nasa’i dan Ad-Darimi serta
Al-Mustadrak Al-Hakim dari Barra’r.a. berkata: “Saya mendengar Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
حَسِّنُوْا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ فَإِنَّ الصَّوْتَ
الْحَسَنَ يَزِيْدُ الْقُرْآنَ حُسْنًا
“Baguskanlah Al-Qur’an
dengan suaramu, karena suara yang bagus menambah keindahan Al-Qur’an.”
5. Kaidah-Kaidah Ilmu Tajwid
Hukum-hukum dalam tajwid beserta komponen ilmu
tajwid yang harus dikenal dipelajari, dipahami serta diamalkan dalam membaca
Al-Quran, antara lain :
1. Hukum Ta’awuz dan Basmalah
Isti’azah atau taawuz adalah melafazkan atau
membunyikannya : “A’uzubillahi minasy syaitaanir rajiim” (ﺍﻋﻮﺬ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﻥ ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ)
cara melafazkan basmalah adalah bunyinya:
“Bismillahir rahmaanir rahiim” (ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺤﻤﻦ ﺍﻟﺮﺤﻴﻢ).
Terdapat 4 cara membaca iati’azah, basmalah dan
surat :
a. memutuskan isti’azah (berhenti) kemudian baru
membaca basmalah,
b. menyambungkan basmalah dengan surah tanpa
berhenti,
c. membaca isti’azah dan basmalah terus-menerus
tanpa henti,
d. membaca isti’azah, basmalah dan awal surat
terus-menerus tanpa berhenti.
Terdapat 4 cara membaca basmalah di antara dua
surat. Membaca basmalah adalah tanda awal dimulai suatu bacaan dalam surat
Al-Quran. Guna dari membaca basmalah suatu keharusan dengan tujuan :
a. Basmalah sebagai pemisah dengan surat Al-Quran
yang lain
b. Sebagai penghubung dengan awal surat Al-Quran
c. Sebagai penghubung dari kesemua surat Al-Quran
d. Menghubungkan akhir surat dengan basamalah, lalu
berhenti.
Namun basamalah tidak selalu menjadi surat awal yang harus terus
dibaca untuk melanjutkan surat berikutnya. Walau bagaimana pun, tidak harus
membaca demikian karena dikhawatirkan ada yang mengganggap basmalah merupakan
salah satu ayat daripada surat yang sebelumnya.
Dalam ilmu tajwid juga
dikenal ada 9 hukum bacaan yang isinya menjelaskan bagian-bagian tanda baca dan
cara melafazkannya atau pengucapannya, antara lain :
A. Hukum nun mati dan tanwin, terdiri dari :
1. Izhar Halqi
2. Idgham
3. Idgham Bilaghunnah
4. Iqlab
5. Ikhfa’ haqiqi
B. Hukum mim mati
Selain hukum nun mati dan tanwin adapula hukum lainnya
dalam mempelajari dan membaca Al-Quran yakni Hukum mim mati, yang disebut hukum
mim mati jika bertemu dengan huruf mim mati (مْ) yang bertemu dengan
huruf-huruf arab tertentu.
Hukum mim mati memiliki 3 jenis, yang diantaranya
adalah :
1. Ikhfa Syafawi (ﺇﺧﻔﺎﺀ ﺷﻔﻮﻱ)
Apabila mim mati (مْ) bertemu dengan ba (ب), maka
cara membacanya harus dibunyikan samar-samar di bibir dan dibaca didengungkan.
Contoh: (فَاحْكُم بَيْنَهُم) (تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ)
(وَكَلْبُهُم بَاسِطٌ)
2. Idgham Mimi ( إدغام ميمى)
Apabila mim mati (مْ) bertemu dengan mim (م), maka
cara membacanya adalah seperti menyuarakan mim rangkap atau ditasyidkan dan
wajib dibaca dengung. Idgham mimi disebut juga idgham mislain atau
mutamasilain.
Contoh : (أَم مَنْ) (كَمْ مِن فِئَةٍ)
3. Izhar Syafawi (ﺇﻇﻬﺎﺭ ﺷﻔﻮﻱ)
Apabila mim mati (مْ) bertemu dengan salah satu
huruf hijaiyyah selain huruf mim (مْ) dan ba (ب), maka cara membacanya dengan
jelas di bibir dan mulut tertutup.
Contoh: (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ) (تَمْسُونَ)
C. Hukum mim dan nun tasydid
Hukum mim dan nun tasydid juga disebut sebagai wajib
al-ghunnah (ﻭﺍﺟﺐ ﺍﻟﻐﻨﻪ) yang bermakna bahwa pembaca wajib untuk mendengungkan
bacaan. Maka jelaslah yang bacaan bagi kedua-duanya adalah didengungkan. Hukum
ini berlaku bagi setiap huruf mim dan nun yang memiliki tanda syadda atau
bertasydid (ﻡّ dan نّ).
Contoh: ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠِﻨﱠﺔ ﻭَﺍﻟﻨﱠﺎﺱِ
D. Hukum alif lam ma’rifah
Alif lam ma’rifah adalah dua huruf yang ditambah
pada pangkal atau awal dari kata yang bermakna nama atau isim. Terdapat dua
jenis alif lam ma’rifah yaitu qamariah dan syamsiah.
- Alif lam qamariah ialah lam yang diikuti oleh 14
huruf hijaiah, seperti: alif/hamzah(ء), ba’ (ب), jim (ج), ha’ (ح), kha’ (خ),
‘ain (ع), ghain (غ), fa’ (ف), qaf (ق), kaf (ك), mim (م), wau (و), ha’ (ﮬ) dan
ya’ (ي). Hukum alif lam qamariah diambil dari bahasa arab yaitu al-qamar (ﺍﻟﻘﻤﺮ)
yang artinya adalah bulan. Maka dari itu, cara membaca alif lam ini adalah
dibacakan secara jelas tanpa meleburkan bacaannya.
- Alif lam syamsiah ialah lam yang diikuti oleh 14
huruf hijaiah seperti: ta’ (ت), tha’ (ث), dal (د), dzal (ذ), ra’ (ر), zai (ز),
sin (س), syin (ش), sod (ص), dhod (ض), tho (ط), zho (ظ), lam (ل) dan nun (ن).
Nama asy-syamsiah diambil dari bahasa Arab (ﺍﻟﺸﻤﺴﻴﻪ) yang artinya adalah
matahari. Maka dari itu, cara membaca alif lam ini tidak dibacakan melainkan
dileburkan kepada huruf setelahnya.
E. Hukum idgham
Idgham (ﺇﺩﻏﺎﻡ) adalah berpadu atau bercampur antara
dua huruf atau memasukkan satu huruf ke dalam huruf yang lain. Maka dari itu,
bacaan idgham harus dilafazkan dengan cara meleburkan suatu huruf kepada huruf
setelahnya. Terdapat tiga jenis idgham:
- Idgham mutamathilain (ﺇﺩﻏﺎﻡ ﻣﺘﻤﺎﺛﻠﻴﻦ – yang
serupa) ialah pertemuan antara dua huruf yang sama sifat dan makhrajnya (tempat
keluarnya) dal bertemu dal dan sebagainya. Hukum adalah wajib diidghamkan.
Contoh: ﻗَﺪ ﺩَﺨَﻠُﻮاْ.
- Idgham mutaqaribain (ﺇﺩﻏﺎﻡ ﻣﺘﻘﺎﺭﺑﻴﻦ – yang hampir)
ialah pertemuan dua huruf yang sifat dan makhrajnya hampir sama, seperti ba’
bertemu mim, qaf bertemu kaf dan tha’ bertemu dzal. Contoh: ﻧَﺨْﻠُﻘڪُﻢْ
- Idgham mutajanisain (ﺇﺩﻏﺎﻡ ﻣﺘﺠﺎﻧﺴﻴﻦ – yang
sejenis) ialah pertemuan antara dua huruf yang sama makhrajnya tetapi tidak
sama sifatnya seperti ta’ dan tha, lam dan ra’ serta dzal dan zha. Contoh: ﻗُﻞ ﺭَﺏﱢ
F. Hukum mad
Mad yang artinya yaitu melanjutkan atau melebihkan.
Dari segi istilah Ulama tajwid dan ahli bacaan, mad bermakna memanjangkan suara
dengan lanjutan menurut kedudukan salah satu dari huruf mad. Terdapat dua
bagian mad, yaitu mad asli dan mad far’i.
Terdapat tiga huruf mad yaitu alif,
wau, dan ya’ dan huruf tersebut haruslah berbaris mati atau saktah. Panjang
pendeknya bacaan mad diukur dengan menggunakan harakat.
G. Hukum ra’
Hukum ra’ adalah hukum bagaimana membunyikan huruf
ra’ dalam bacaan. Terdapat tiga cara yaitu kasar atau tebal, halus atau tipis,
atau harus dikasarkan dan ditipiskan.
* Bacaan ra’ harus dikasarkan apabila:
1. Setiap ra’ yang berharakat atas atau fathah.
Contoh: ﺭَﺑﱢﻨَﺎ
2. Setiap ra’ yang berbaris mati atau berharakat
sukun dan huruf sebelumnya berbaris atas atau fathah.
Contoh: ﻭَﺍﻻَﺭْﺽ
3. Ra’ berbaris mati yang huruf sebelumnya berbaris
bawah atau kasrah.
Contoh: ٱﺭْﺟِﻌُﻮْﺍ
4. Ra’ berbaris mati dan sebelumnya huruf yang
berbaris bawah atau kasrah tetapi ra’ tadi berjumpa dengan huruf isti’la’.
Contoh: ﻣِﺮْﺻَﺎﺪ
* Bacaan ra’ yang ditipiskan adalah apabila:
1. Setiap ra’ yang berbaris bawah atau kasrah.
Contoh: ﺭِﺟَﺎﻝٌ
2. Setiap ra’ yang sebelumnya terdapat mad lain
Contoh: ﺧَﻴْﺮٌ
3. Ra’ mati yang sebelumnya juga huruf berbaris
bawah atau kasrah tetapi tidak berjumpa dengan huruf isti’la’.
Contoh: ﻓِﺮْﻋَﻮﻦَ
* Bacaan ra’ yang harus dikasarkan dan ditipiskan
adalah apabila setiap ra’ yang berbaris mati yang huruf sebelumnya berbaris
bawah dan kemudian berjumpa dengan salah satu huruf isti’la’.
Contoh: ﻓِﺮْﻕ
Isti’la’ (ﺍﺳﺘﻌﻼ ﺀ): terdapat tujuh huruf yaitu kha’
(خ), sod (ص), dhad (ض), tha (ط), qaf (ق), dan zha (ظ).
H. Qalqalah
Qalqalah (ﻗﻠﻘﻠﻪ) adalah bacaan pada huruf-huruf
qalqalah dengan bunyi seakan-akan berdetik atau memantul. Huruf qalqalah ada
lima yaitu qaf (ق), tha (ط), ba’ (ب), jim (ج), dan dal (د). Qalqalah terbagi
menjadi dua jenis:
- Qalqalah kecil yaitu apabila salah satu daripada
huruf qalqalah itu berbaris mati dan baris matinya adalah asli karena harakat
sukun dan bukan karena waqaf.
Contoh: ﻴَﻄْﻤَﻌُﻮﻥَ, ﻴَﺪْﻋُﻮﻥَ
- Qalqalah besar yaitu apabila salah satu daripada
huruf qalqalah itu dimatikan karena waqaf atau berhenti. Dalam keadaan ini,
qalqalah dilakukan apabila bacaan diwaqafkan tetapi tidak diqalqalahkan apabila
bacaan diteruskan.
Contoh: ٱﻟْﻔَﻟَﻖِ, ﻋَﻟَﻖٍ